PENGANTAR   ILMU  SEJARAH

(PIS)

 

 

“BETAPA BESARNYA RESIKO MENGAITKAN PELAJARAN SEJARAH DENGAN KEPENTINGAN LEGITIMASI KEKUASAAN” (Taufik Abdullah)

 

 

PENGANTAR  PERKULIAHAN

 

            Mata kuliah ini merupakan mata kuliah “pembuka” dalam mempelajari Ilmu Sejarah, sehingga kesuksesan pemahaman akan materinya akan menjadi pemicu like/dislike seseorang (termasuk mahasiswa baru dalam hal ini). Penempatannya dalam kurikum (dimanapun jenis perguruan tingginya) cenderung berada pada semester I, sebelum mahasiswa belajar materi sejarah lainnya (baik sejarah yang bersifat nasional, lokal, regional/kawasan maupun sejarah yang sifatnya tematis). Hal ini karena urgensi dari muatan mata kuliah ini bagi perkembangan intelektual dan keakademisan seseorang dalam keilmuan Sejarah.

Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu tertua, dan secara formal sudah mulai diajarkan di universitas-universitas Eropa mulai dari Oxford hingga Gottingen, pada abad ke-17 dan 18. Namun kemunculan ilmu Sejarah baru terasa pada abad ke-19, bersamaan dengan perkembangan ilmu sosial lainnya (Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, 1994:440).

            Sebagai pengantar pemikiran bagi mahasiswa, dibawah ini penulis ketengahkan berbagai ungkapan yang terkait dengan keilmuan sejarah secara umum, yaitu :

* Sejarah bukan hanya menyangkut masa lalu, klaim politik dan orientasi cultural dan entah apa lagi yang sifatnya subyektif (Taufik Abdullah,2001:223)

* Kisah sejarah tidaklah berakhir ketika ceritera telah usai dan arti masa lalu tidaklah habis ketika zaman baru telah dimasuki (Taufik Abdullah:2001:215).

* Dengan sejarah kita dimungkinkan “bertamasya ke masa lain/berkhayal tentang masa yang akan datang ( ibid )

* Dengan wacana sejarah dimungkinkan secara konseptual menemukan jalan untuk membebaskan diri dari kesumpekkan tekanan kekuasaan (  ibid ).

* Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan dikuasai oleh mereka yang menguasai isi ingatan, yang merumuskan konsep dan menafsirkan masa lalu (Taufik Abdullah,2001:214).

* Bukanlah peristiwa masa lalu itu yang penting, tetapi pelajaran yang bisa dipantulkannya atau dipentingkan  ialah pesan sejarah bukan kepastian sejarah (Taufik Abdullah,2001:220).

* Sejarah menurut E.H. Carr adalah proses berkesinambungan dari interaksi antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya, suatu dialog yang tidak berkesudahan antara masa sekarang dengan masa lampau (Asvi Warman Adam,2004:274)

* Belajar sejarah  bukan tahu namun mengerti (Taufik Abdullah, dalam seminar di Jurusan Pendidikan Sejarah Unigal, tahun 2003).

* Tugas ilmu Sejarah adalah membuat rekonstruksi masa lampau masyarakat manusia yang duwujudkan kedalam ceritera sejarah.

*Sejarah itu bagaikan kaca spion ketika seseorang mengendarai kendaraan. Dimana orang tidak boleh mengabaikan sama sekali apa yang terpapar dalam kaca spion yang menggambarkan peristiwa “dibelakang”nya karena gambar itu akan sangat membantunya dalam memilih haluan yang benar, tetapi ia juga tidak boleh terbuai oleh gambar dalam kaca spion tersebut, karena sebenarnya tanggung jawabnya adalah menjalankan kendaraan agar tetap berjalan maju.(Pengantar dalam buku”Hantu Komparasi” karangan Benedict Anderson)

 

 

RUANG  LINGKUP

MATERI PERKULIAHAN

 PIS

           

Meliputi segala sesuatu yang mengantarkan mahasiswa mempelajari Sejarah, diluar Filsafat Sejarah dan Historiografi., sehingga dapat mengarahkan mahasiswa memahami sejarah secara komprehensif-integral sebagai suatu ilmu.

Dalam mempelajari Sejarah, tidak terlepas dari bantuan ilmu sosial lainnya, karena itu kadangkala ilmu Sejarah ini bersifat multi/inter disipliner, namun tidak semua dari teori ilmu secara umum dapat dipakai dalam ilmu Sejarah, karena ada teori sejarah yang tidak dapat diambil sifat keumumannya/generalisasinya (sebagai contoh : istilah perang kemerdekaan di Indonesia dengan Amerika Serikat).

            Sejarah sebagai ilmu (bukan hanya pengetahuan), tidak terlepas dari tahapan-tahapan yang harus dilewatinya, dalam arti tidak semua pengetahuan Sejarah selanjunya pasti menjadi ilmu. Pada dasarnya untuk menghasilkan suatu teori secara umum (dalam sejarahpun) harus melalui prosedur, yaitu :

1.Data   (hal-hal yang dikumpulkan oleh peneliti untuk melengkapi dan menunjang penelitiannya)

2. Fakta ( hasil olahan data yang diberi arti dan mempunyai unsure interpretasi)

3. Konsep (pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa kongkrit)

4. Hipotesis (sesuat yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat, meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan)

5. Generalisasi (simpulan umum dari suatu kejadian/penyamarataan)

6. Teori (asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu ilmu pengetahuan).

Sedangkan kriteria penelitian yang dikategorikan pada Ilmiah adalah sebagai berikut  ;

1. Menyatakan tujuan secara jelas, sehingga dapat menjawab suatu permasalahan dan dengan jelas juga menyebutkan proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

2.  Menggunakan landasan teoritis dan metode pengujian data yang relevan.

3.  Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji dari telaah teoritis.

4. Mempunyai kemampuan untuk diuji ulang oleh peneliti berikutnya.

5. Memilih data dengan presesi (data berupa sample dan populasi), sehingga hasilnya dapat dipercaya.

6.  Menarik simpulan secara obyektif.

7. Melaporkan hasil secara parsimony (simple, menerangkan fenomena dan masalah yang diteliti dan simple)

8.  Temuan penelitian dapat digeneralisasikan.

(Catatanku : untuk ilmu sejarah nomor 3,4 dan 8 tidak berlaku).

 

ISTILAH, PENGERTIAN/KONSEP, BATASAN/DEFINISI SEJARAH

 

ISTILAH   SEJARAH

Istiah Sejarah terkait dengan :

-Silsilah, asal-usul (ceritera tentang kehidupan)

- Kejadian dan peristiwa yang benar-benar telah terjadi pada masa lampau

- Kisah/ceritera (dari bahasa Indonesia) atau peristiwa yang benar-benar sudah terjadi atau berlangsung pada waktu yang lalu.

- Riwayat (laporan/ceritera tentang kejadian/secara khusus)

- Hikayat ( ceritera tentang kehidupan)

- llmu pengetahuan, ceritera, pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi   pada masa lampau (KBBI,1996:891).

- Syajarotun (dari bahasa Arab, artinya pohon kayu, maksudnya menggambarkan tentang pertumbuhan (proses yang berjalan terus) dan mengalami perkembangan.

- Babad (bahasa Jawa) artinya memangkas/menebang. Menurut Pigeaud ada 2 macam babad, yaitu babad mengenai desa terus ke kota yang terus membentuk kerajaan serta kedua dari gelap menjadi terang masalahnya.

- Tambo (dalam bahasa Minangkabau)

- Geschiedenis (dari bahasa Belanda, yang berasal dari kata geschieden artinya terjadi)

- Geschicte (dari bahasa Jerman, artinya terjadi)

- History (dari bahasa Inggris, artinya ceritera)

- L’histoirie (dari bahasa Francis)

- Historia (dari bahasa Yunani, artinya suatu pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam atau penjelasan/uraian tentang manusia secara sistematis dan kronologis.

- Historia (dari bahasa Latin, ini berasal dari Kerajaan Romawi “historia vitae magistra = sejarah adalah guru kehidupan).

Jika dilihat dari istilah-istilah/perkataan maka dapat disimpulkan bahwa sejarah itu sebagai ceritera tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan berlangsung pada waktu yang lalu.

 

 

PENGERTIAN/KONSEP  SEJARAH

Pengertian sejarah (secara umum) sekurang-kurangnya mempunyai tiga komponen yang terpisah, yaitu :

a. Segala peristiwa masa lalu, yaitu sejarah sebagai kenyataan/aktivitas.

b. Metode yang dipergunakan oleh para sejarawan untuk merekonstruksi masa lalu.

c. Pernyataan-pernyataan yang tertulis oleh para sejarawan, tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, baik dokumen, buku teks, serta narasi/kisah sejarah.

Konsep  sejarah menurut  Ismaun ((bahan perkuliahan PIS tahun 1987, tanggal 2-10-1987) adalah sebagai berikut :

a.Ada waktu/time yang kontinyu dari waktu yang silam yang bersambung ke masa kini lalu ke masa nanti dan masa depan yang tidak dapat berulang.

b. Ada ruang/space/area/tempat.

c. Ada topic/tema bidang  kehidupan (area of living) bidang kebudayaan, kesenian, ekonomi, teknologi, filsafat dsb.

Konsep   sejarah  menurut  E.H.Carr  mengandung tiga komponen, yaitu :

a. Ada peristiwa (segala hal yang terjadi pada masa lalu)

b. Ada manusia/pelaku (rekaman ingatan manusia tentang masa lalu)

c. Ada waktu/masa lampau (studi tentang masa lalu).

Sementara konsep sejarah menurut Muhammad Yamin ada 4, dengan didasarkan pada 4 dalil juga, yaitu :

a.Ilmu pengetahuan dan penafsiran (dengan dalil sebagai bentukan rohani)

b. Hasil pengetahuan dan bahan pengetahuan (dengan dalil mempertanggungkan)

c. Ceritera dari masyarakat manusia (dengan dalil sebagai sesuatu kebudayaan)

d. Kejadian dan tarik/tanggal/waktu yang lalu (dengan dalil zaman yang lampau).

Sejarah menurut Baskarat T Wardaya (2007:17) dimaksudkan sebagai “rangkaian dialog kritis, kreatif dan kontinyu antara pelaku peristiwa masa kini dengan para pelaku peristiwa masa lampau berdasarkan sumber-sumber yang relevan dan demi tujuan tertentu……Sejarah bukanlah hanya masalah “apa yang terjadi di masa lalu” melainkan juga masalah bagaimana kejadian masa lalu itu dipahami, dirumuskan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang-orang yang hidup pada masa kini”

Sementara menurut Kuntowijoyo (1997,7-16) pengertian sejarah mencakup dua hal penting, yaitu :

a.Pengertian sejarah secara negatif, meliputi :

1). Sejarah itu bukan mitos (Mytos dari bahasa Yunani = dongeng), dimana mitos dan sejarah sama-sama menceritakan masa lalu. Namun pendapat ini dapat disangkal dengan alasan mitos itu sendiri menceriterakan masa lalu dengan ; waktu yang tidak jelas serta kejadiannya kadangkala tidak masuk akal (seperti halnya dalam buku Babad Tanah Jawi yang menyebutkan bahwa raja-raja Mataram merupakan keturunan para nabi dan keturunan tokoh pewayangan)

2). Sejarah bukan filsafat. Diasumsikan sejarah dapat dijatuhkan karena tidak ilmiah bila dihubungan dengan filsafat. Bagaimanapun filsafat itu sifatnya abstrak dan menyangkut manusia pada umumnya yang ada dalam angan-angan. Sedangkan sejarah belajar peristiwa yang berdasar realitas pada data dan fakta yang dipegang oleh sejarawan.

3). Sejarah itu bukan ilmu alam, artinya sejarah itu mempunyai cara kerja sendiri yang obyeknya manusia (dinamis) bukan alam (sifatnya statis). Dalam ilmu alam hukum-hukum berlaku secara tetap, tidak pandang orang, tempat, waktu dan suasana. Sementara hukum ilmu sosial termasuk sejarah di dalamnya tidak dapat berlaku sama, karena itu sejarah mempunyai ke-khasan dan ideografis sifatnya, artinya menuliskan pikiran pelaku).

4). Sejarah bukan sastra. Dengan asumsi bahwa sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya dan sejelas-jelasnya berdasarkan data dan fakta yang harus dipertanggungjawabakan secara ilmiah. Sementara sastra sifatnya sangat subyektif, tergantung dari sudut pandang penulis itu sendiri. Yang jelas membedakannya dalam 4 hal, yaitu, pertama cara kerja, kedua kebenaran, ketiga hasil keseluruhan dan keempat kesimpulan.

b. Pengertian sejarah secara positif, meliputi :

1). Sejarah sebagai ilmu manusia, artinya sebagai ilmu obyeknya manusia, yang berdasarkan kesepakatan dengan ilmu arkeologi sejarah meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500 M.

2). Sejarah sebagai ilmu tentang waktu. Sebagai ilmu sosial yang sama-sama obyeknya manusia sebagai bahan kajiannya, namun berbeda dengan ilmu sosial lainnya dalam soal penekannya (sosiologi menekankan pada lapisan masyarakat; antropologi lebih pada etnisitasnya; politik lebih pada kekuasannya dalam masyarakat; sedangkan sejarah lebih menekankan pembicaraan masyarakat dari segi waktu dengan kata lain sejarah adalah ilmu tentang waktu).

Khusus terkait dengan masalah waktu, terkait 4 hal  :

a). Perkembangan (cenderung masyarakat berkembang dari sederhana pada masyarakat yang kompleks).

b), Kesinambungan (cenderung terjadi apabila terjadi pengadopsian lembaga-lembaga baru dari lembaga-lembaga lama, seperti kolonialisme merupakan kelanjutan dari patrimonialisme).

c). Pengulangan (terjadi apabila peristiwa yang pernah terjadi fenomena/gejalanya terjadi lagi seperti peristiwa yang telah lalu).

d). Perubahan (cenderung terjadi pada perkembangan yang hampir sama dengan nomor a) namun secara besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat dan biasanya diikuti dengan membuat pembabakan waktu/periodisasi).

3), Sejarah sebagai ilmu tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial. Setiap peristiwa merupakan sejarah, namun tidak setiap peristiwa mempunyai arti dalam perkembangan dan perubahan masyarakat. Misalnya ; Kongres Pemuda ke-2 tahun 1928 mempunyai makna sosial bagi perjuangan Bangsa Indonesia sampai sekarang, padahal sebelumnya (tahun 1926 telah diselenggarakan Kongres Pemuda pertama) dan sesudahnya sampai sekarang tidak sedikit dilakukan kongres pemuda serupa dengan tujuan yang sama, namun Sumpah Pemuda sebagai hasil dari Kongres Pemuda ke-2 itulah yang mempunyai arti bagi Indonesia sampai sekarang.

4). Sejarah sebagai ilmu tentang sesuatu yang tertentu (artinya bila mengupas satu hal, mesti jelas kapan dan dimananya), satu-satunya (sejarah harus menulis peristiwa, tempat dan waktu yang hanya sekali terjadi) serta terinci (artinya detail, menyajikan yang kecil-kecil, tidak terbatas pada hal-hal yang besar saja).

Konsep sejarah yang sangat umum dapat dibagi dalam 3 hal itu :

a. Sejarah sebagai peristiwa (kejadian/kenyataan)

b. Sejarah sebagai kisah (kesan/tafsiran)

c. Sejarah sebagai ilmu (sebagai system pengetahuan yang kebenaran ceritanya tentang kejadian masa lalu secara sistematis dan metodis)

.

 

 

A.Sejarah Sebagai Peristiwa

Merupakan kenyataan/realitas yang artinya peristiwa itu prosesnya bisa sesaat, bisa lama, kalau tidak kenyataan merupakan jejak, bekas atau juga berupa peninggalan/sisa-sisa dan bila sudah diteliti disebut fakta (sebagai contoh karang sampah di Sangiran, sebagai bukti telah terjadi kehidupan). Dengan kata lain kenyataan atau jejak/bekas/peninggalan/sisa-sisa yang sebenarnya telah terjadi dan berlangsung pada waktu yang lalu (sejarah serba obyek, menurut istilah dari R.Moh.Ali).

       Mempunyai ciri-ciri/sifat-sifat sebagai berikut  :

1.Proses (continuity dan change) perkembangan dan perubahan terus menerus.

2. Kronologis : berkelajutan atau terpatah-patah.

3. Tidak berulang (einmalig), tetapi gejala/fenomena bisa berulang.

4. Ada kesenjangan waktu (time gap) : masa lalu dengan masa kini.

5. Mengandung moral : sejarah adalah produk rohaniah.

6. Rangkaian sebab akibat, siapa/apa faktor penggeraknya.

7. Peristiwa masa lalu unobservable, bagaimana rekonstruksinya, apakah utuh atau tidak utuh.

8. Mungkin atau tidak mungkin mengadakan generalisasi dan prediksi

9. Peristiwa tidak terbatas dan akumulatif, diseleksi berdasarkan prioritas dan kepentingannya.

10.Mengandung makna : memahami bahwa peristiwa saling berhubungan.

Sejarah sebagai peristiwa meliputi 3 hal, yaitu :

1.Waktu.

Dalam hal waktu dapat dibagi atas 2 hal, yaitu :

a.Proses yang menggambarkan perubahan/change/kelangsungan/continues, yang sifatnya  perubahan yang naik turun kearah kemajuan.

b.Kronologis/berurutan waktunya, yang terdiri dari continuity/kelangsungan yang terus menerus dari satu titik menuju titik tertentu dan yang didalamnya terdapat direction artinya berlangsungnya/lama waktu yang diperlukan dari mulai sampai titik yang dimaksud.

2. Ruang/space.

Melingkupi geografis bumi dan antariksa juga astronomi

3. Peristiwa.

Berbicara peristiwa, dapat melingkupi 2 hal, yaitu :

a.Aktivitas manusia/human aktifities. Ada juga human achievement/manusia berbudaya yang menggunakan alam sebagai sarana untuk mencapai hidup manusia.

b. Ada sebab akibat/kausalitet yang   merupakan satu rangkaian hubungan sebab akibat yang mencakup :

-peristiwa terjadi dimana-mana (umum)

-pada waktu, ruang dan aktifitas tertentu (khusus)

-peristiwa sejarah itu dapat terjadi sekali saja (geschiste ist einmalig) dan tidak berulang namun gejalanya/fenomenanya dapat berulang yang terjadi tidak terbatas/unlimited yang bersifat akumulatif dan ada kesenjangan waktu.

 

B. Sejarah Sebagai Ilmu

Merupakan segala hal ikhwal yang terjadi pada masa lampau dari catatan atau rekaman ingatan manusia tentang masa silam (history recording is memory human kind) atau studi tentang masa  lampau. Dalam hal ini pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan akal sehat, sedang ilmu diperoleh melalui pengertian (ada sebab dan akibatnya) juga menggunakan metode ilmiah (dari mulai penelitian sumber sejarah, analisa/diagnosis, tafsiran/simpulan sampai disusun dalam ceritera).

Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan (a body knowledge : tubuh pengetahuan) yang dalam suatu sistem (suatu keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur, fungsi dan tujuan) tertentu yang disusun dengan suatu metode tertentu dan dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran tentang sesuatu.

Syarat-syarat dapat dikategorikan pada ilmu :

1.Obyek : alam dan manusia

2. Metode (suatu prinsip/cara/prosedur yang ditempuh sampai pada teknik-teknik tertentu untuk mencari kebenaran suatu ilmu harus punya metode yang ilmiah.

3. Pokok-pokok persoalan (problematik lalu dianalisa, sehingga tercapai suatu simpulan dan timbul pengertian-pengertian tersendiri (konsep).

Jadi struktur ilmu ada data (kejadian alam/manusia)—-fakta—–konsep—–generalisasi—teori. Sebagai contoh ; untuk ilmu sosiologi dan antropologi syarat nomor 2 dan 3 sama, namun pokok-pokok persoalan keduanya membedakan kategori keilmuan masing-masing. Selain itu ilmu adalah kebenaran yang obyektif yang punya ciri-ciri :

1.Dikumpulkan secara metodis

2. Terdiri dari perumusan umum lalu menjadi kaidah, rumusan, hukum dan norma.

Ilmu sifatnya obyektif, artinya kebenaran tidak boleh tergantung pada teori seseorang.

Sementara menurut Ismaun (bahan perkuliahan PIS tahun 1987, tanggal 2-10-1987) menyebutkan bahwa sejarah dikategorikan pada ilmu dengan alasan :

a.Peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan masyarakat manusia pada masa lampau

b. Adanya kesenjangan waktu/time, sehingga peristiwa-peristiwa yang telah terjadi tidak dapat diobservasi (diteliti dan diamati lagi)

c. Adanya catatan rekaman (jika sudah ada tulisan/history is recording memory, peninggalan-peninggalan sejarah serta peristiwa-peristiwa dan masyarakat manusia)

d. Adanya susunan/organisasi (ilmu sejarah berdasar tema-tema serta periodisasi-are/ruang-topik).

Sejarah sebagai ilmu  mempunyai ciri-ciri/sifat-sifat sebagai berikut  :

1.Suatu metode (umum dan khas)

2. Tidak mungkin ada eksperimen sejarah

3. Unik : tidak dapat disamakan dengan disiplin ilmu lain

4. Masalah generalisasi :apakah ada, tidak ada, terbatas atau terbatas kondisional

5. Sifat sejarah : tidak serba tentu, kejadian bergerak kearah tujuan

6. Sifat sejarah untuk dipahami, bukan diteliti.

7. Pada penulisan sejarah, harus ada jarak antara subyek dan fakta agar dapat diseleksi secara obyektif

8. Titik berat sejarah adalah apa yang paling menarik bagi generasi yang menulis sejarah (zeitgeist/jiwa zaman)

9. Komparatif, intersubyektifitas.

10.Adanya kesadaran tentang eksistensi dan sifat alami masalah-masalah yang dapat dioleh berdasarkan sejarah.

11. Pada pengetahuan sejarah, fakta tidak dapat selamanya dipastikan obyektifitasnya. Juga makna yang diberikan pada fakta tidak dapat dipastikan untuk berlaku terus.

 

*keterangan :

Ukuran sesuatu ilmu itu benar, jika :

1.Rasionalitas

2. Empiris.

Keduanya merupakan ukuran yang pasti ilmu itu benar.

3. Intuisi (menurut firasat dan keyakinan baik secara filsafat maupun menurut agama).

 

C. Sejarah Sebagai Kisah

Merupakan ceritera dari kesan atau tafsiran terhadap kejadian atau peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu (sejarah serba subyek menurut pendapat R.Moh.Ali). Sejarah sebagai kisah/ceritera berdasarkan pada peristiwa, yang pada hakekanya kisah merupakan ceritera tentang peristiwa yang sudah pernah terjadi yang memerlukan syarat-syarat bahwa peristiwanya harus benar-benar terjadi yang diperoleh dari informasi yang berdasarkan atas kenyataan-kenyataan/eksperimen/penelitian terhadap sumber-sumber sejarah yang merupakn evindence/bukti kesaksian yang berupa peninggalan yang tidak lenghap berupa sebagian atau sisa-sisa yang ada, yang dapat diklasifikasikan atas : kronologi; selektif; khusus yang menuju pada umum serta tafsiran.

            Mempunyai ciri-ciri/sifat-sifat sebagai berikut :

1.Mengandung tafsiran.

2. Mengandung kebenaran :fakta dan interpretasi, menilai objektifitas dan subjektifitas.

3. Sejarah tergantung dari cara berfikir sejarawan

4. Bersumber dari jejak masa lalu/sisa-sisa peninggalannya sebagai evidensi

 

 

BATASAN/DEFINISI  SEJARAH

 

Sejarah dapat direkonstruksi/digambarkan kembali, namun tidak selengkapnya, dengan alasan, pertama kemampuan manusia terbatas dan kejadiannya itu sendiri tidak habis-habisnya. Sementara itu definisi Sejarah banyak dan berbeda-beda, tergantung pada pemberian definisi. Namun yang jelas ada persamaan  juga terdapat perbedaan. Dalam hal perbedaan pemberian batasan/definisi Sejarah, hal ini dapat difahami, mengingat :

a.Adanya pemberian tekanan yang berbeda (stressing)

b. Fokusnya luas sekali

c. Latar belakang dan luas/sempitnya pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Adapun definisi Sejarah menurut para sejarawan dibawah ini sebagai berikut  :

1.Muhammad Yamin. Mendefinisikan Sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan ceritera bertarikh (ada kurun waktu) sebagai hasil penafsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada masa lampau, yaitu susunan hasil penyelidikan bahan-bahan tulisan tanda-tanda lain.

2. John Huizenga (1872-1945, sejarawan dan guru besar di groningen Belanda dan Leiden). Mendefinisikan sebagai bentukan rohani tempat sesuatu kebudayaan yang menguraikan tentang masa lampuau.

3. E.H. Carr. Mendefinisikan sebagai satu proses interaksi yang terus menerus antara sejarawan dan fakta-fakta yang ada padanya satu dialog tiada hentinya antara masa sekarang dan masa silam.

4. Robert V Danniels. Mendefinisikan sebagai kenangan dari pengalaman dari tumpuan manusia (history is memory of human group experience).

5. Aristoteles . Menggunakan kata “istoria” sebagai penjelasan yang sistematis mengenai seperangkat gejala alam/ natural history (bahasa latin :scientia gejala alam non kronologis) sedangkan kata istoria biasanya digunakan bagi penjelasan mengenai gejala-gejala dalam urutan kronologis terutama hal-ikhwal tentang manusia. Jadi yang  tidak kronologis disebut sebagai science dan yang tidak menyangkut manusia disebut sebagai sejarah alam/natural history.

6. James V. Bryce. Mengatakan bahwa titik tumpu sejarah adalah manusia,dimana sejarah dapat berupa tulisan mengenai apa yang telah dipikirkan orang, diucapkan dan perbuat orang.

7. Ibn Khaldun (1332-1402). Mengatakan “Sejarah” adalah :

a.Catatan tentang masyarakat manusia/peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak-watak masyarakat itu seperti : keliaran, keramah-tamahan dan solidaritas golongan.

b. Tentang revolusi dan pemberontakan-pemberontakan oleh segolongan orang/rakyat melawan golongan lain dengan akibat timbulnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara.

c. Tentang macam-macam kegiatan dan kedudukan orang baik untuk mencapai penghidupannya maupun dalam bermacam-macam cabang ilmu.

d. Dan pada umumnya, tentang segala perubahan yang terjadi dalam masyarakat manusia, karena watak masyarakat itu sendiri.

8. Jan Romein. Mengatakan bahwa sejarah sebagai peristiwa yang terjadi dengan sesungguhnya serta sejarah sebagai ilmu pengetahuan.

9. Aloys Meister dan Gilbert Garraghan. Mengatakan bahwa :

a. Peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia yang terjadi di masa lampau (history as past actuality)

b. Pertulisan mengenai apa yang telah terjadi di masa lampau itu (the record of events)

c. Sejarah sebagai metode penelitian (method of inquiry) yaitu proses atau teknik meneliti sejarah dan menuliskan hasilnya.

10.Nugroho Notosusanto. Mengatakan bahwa sejarah itu sebagai peristiwa, sebagai kisah dan sebagai ilmu.

11. Kuntowijoyo (1997:17),mendefinisikan sejarah sebagai rekonstruksi masa lalu, yang diibaratkan sebagai orang naik kereta menghadap ke belakang, sehingga dapat melihat ke belakang, ke samping kiri dan kanan, namun terkendala   tidak bisa melihat ke depan.. Sementara sejarawan itu sendiri diibaratkan sebagai dalang yang dapat memainkan apa saja dengan dibatasi oleh wayang (diasumsukan sebagai fakta) dan lakon (diasumsikan sebagai tema yang dipilih oleh sejarawan itu sendiri), dimana sejarawan dapat menulis apa saja, asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah.

12. Sidi Gazalba (1981:2), mendefinisikan ilmu yang berusaha menentukan dan mewariskan pengetahuan tentang masa lalu suatu masyarakat tertentu. Ataupun juga diartikan sebagai gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitranya sebagai makhluk sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan, yang memberi pengertian tentang apa yang telah berlalu (Sidi Gazalba (1981:13).

Dari berbagai definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli tentang sejarah, tidak ada satu definisipun yang sempurna, seperti kata Richard dan Ogden yang mengatakan bahwa setiap definisi bersifat ad-hoc . Definisi tersebut senantiasa dapat dipergunakan sebagai pangkal tolak untuk dijadikan landasan bagi kelanjutan suatu pembicaraan.

 

UNSUR    UTAMA   SEJARAH

 

1. Apa

2. Dimana

3. Kapan

4. Siapa

Keempat hal  ini disebut kronikle, sedangkan dapat disebut sejarah apabila ditambah dengan :

5. Mengapa

6. Bagaimana (ada dinamikanya) (Taufik Abdullah, dalam seminar di Jurusan Pendidikan Sejarah Unigal, tahun 2003)

 

KEKUATAN-KEKUATAN   SEJARAH

            Kekuatan-kekuatan sejarah disini maksudnya adalah suatu kekuatan yang dapat menggerakkan jalannya sejarah namun luput dari pandangan, karena letakna tersembunyi atau terlalu abstrak untuk dibayangkan.. Artinya bila mengkaji suatu peristiwa, yang terlihat dari peristiwa itu hanyalah yang  nampak di permukaan saja, namun tidak mengetahui apa yang memungkinkan peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Carl G.Gustavson (dalam bukuna A Preface to History, yang dikutip oleh Kuntowijoyo,1995,124) menyebutkan 6 hal yang dapat menggerakkan sejarah, yaitu :

1.Ekonomi (sebagai contoh terjadinya pemogokan, dibentuknya organisasi pengusaha sejenis atau organisasi profesi)

2.Agama (sebagai contoh : keberadaan meunasah di Aceh terkait dengan pergerakan nasional, dibentuknya organisasi keagamaan yang berkutat dalam bidang pendidikan serta berdirinya organisasi massa yang terkait dengan aliran keagamaan).

3.Institusi (terutama institusi politik) (sebagai contoh : dibentuknya Volkstraad tahun 1918 yang berfungsi sebagai DPR Hindia Belanda serta peristiwa Kongres Pemuda II tahun 1928 yang diselenggarakan oleh partai-partai masa Pergerakan Nasional

4.Teknologi (sebagai contoh : peternakan kuda sangat jauh berkurang di Indonesia setelah berfungsinya kereta api).

5.Ideologi (sebagai contoh : jatuhnya USSR karena glassnote dan perestroika serta jatuhnya orde lama karena komunis)

6.Militer. (sebagai contoh : berkuasanya Hitler di Jerman serta kelanggengan Suharto sebagai penguasa masa Orde Baru)

Sementara Kuntowijoyo sendiri menambahkan dengan :

1.Individu (sebagai contoh : pesantren tidak akan berdiri tanpa ada kyai yang kharismatik yang menjadi pendirinya (nama pesantren kadangkala identik dengan kyaianya), serta berkuasanya Suharto selama 30 tahun yang didampingi ibu Tien selama 28 tahun dan sejak tahun 1997 mulai digoyang dalam berbagai aspek kehidupan)

2.Seks (sebagai contoh : persahabatan Sukarno dengan J.F.Kennedy terkait dengan Marylin Monroe serta terbitnya majalah-majalah maupun tabloid wanita seperti gadis, femina, Kartini)

3.Umur (sebagai contoh : jumlah kelahiran yang didata oleh biro statistis dapat dijadikan acuan oleh produsen pembuat baju anak serta meningkatnya angka harapan hidup orang Indonesia mempunyai relevansi dengan pembuatan KTP seumur hidup bagi orang yang sudah berusia diatas 60 tahun)

4.Golongan (sebagai contoh : golongan priyayi yang intelektual dari kalangan pribumi membuat organisasi BU serta kuatnya Golkar sebagai partai masa orde baru tidak terlepas dari dukungan keluarga kaum militer dan pegawai negeri).

5.Etnis dan ras (sebagai contoh : orang batak yang mendominasi perhimpunan advokat di Indonesia serta sering terjadinya konflik etnis Jawa dengan etnis lain di Kalimantan tidak terlepas dari budaya orang Jawa yang ulet, disiplin dan optimis dalam menjalani hidup).

6.Mitos (sebagai contoh : sering terjadinya bencana alam di DIY dikarenakan disharmonisasi antara masyarakat dengan penguasa laut kidul dan penguasaa gunung Merapi)

7.Budaya (sebagai contoh : barat yang sekarang dikomandani USA dianggap sebagai penguasa dunia yang merupakan keturunan bangsa Eropa yang keturunan Arya padahal selama 1000 tahun masa the dark age dunia dikuasai oleh orang Islam).

 

 

KARAKTERISTIK    SEJARAH

 

Karakteristik sejarah menurut  Ismaun (bahan materi perkuliahan IKIP Bandung tahun 1987 untuk jurusan pendidikan Sejarah)  yaitu :

1.Mempunyai konsep dan permasalahan

2. Mempunyai sifat-sifat/ciri-ciri sebagai ilmu

3. Mempunyai kedudukan dan fungsi ilmu dalam :

a.Sebagai ilmu humaniora/ilmu kemanusiaan/humanistik, yang secara keseluruhan disebut dengan kebudayaan. seperti halnya seni, ideografis, yang sifatnya unik dan khusus. Kedudukan ilmu humaniora adalah sebagai pembantu dari ilmu-ilmu sosial. Sejarah masuk sebagai ilmu ini karena unik/mempunyai keunikan dan mempunyi ciri khas tertentu. Selain itu sejarah memelihara, merekam warisan budaya manusia dan penafsiran perkembangan manusia. Sementara dari sudut seni mempunyai keindahan dalam arti susunan bahasanya.

b. Ilmu sosial, ilmu yang dikategorikan pada sciences. Sejarah masuk ilmu sosial dengan alasan sejarah tidak hanya mengenal konsep tapi bisa menemukan  generalisasi sosial, pola aktivitas manusia dan memberikan penjelasan prilaku manusia/behavior science serta bisa dijadikan teori. Sebagai contoh konsep revolusi dan evolusi.

Kedua ilmu ilmu ini dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Seorang sejarawan sebagai ilmuwan sosial/humaniora tidak perlu menjadi dua orang, namun bisa menjadi satu, dengan cara titik berat utamanya “sejarah memperhatikan hal yang unik”

Sementara menurut Kuntowijoyo (1997:59-72), mengemukakan bahwa sejarah itu dapat dikategorikan pada ilmu dan seni disertai dengan argumennya, yaitu  :

1.Sejarah sebagai ilmu.

Argumentasi sejarah sebagai ilmu dengan alasan :

a.Sejarah itu empiris. Empiris berasal dari bahasa Yunani empeiria artinya pengalaman. Artinya sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia yang direkam dalam dokumen, kemudian diteliti oleh sejarawan untuk menemukan fakta yang dari fakta-fakta itulah nanti diinterpretasikan yang selanjutnya baru ditulis, sehingga muncul tulisan sejarah. Jadi dalam hal ini sejarah jug berdasar pada pengalaman, pengamatan dan penyerapan (sama halnya dengan ilmu alam dan ilmu sosial lainnya).

b. Sejarah mempunyai obyek. Obyek dari ilmu sejarah adalah waktu yang ditempuh oleh masyarakat manusia masa lampau/manusia dalam kapasitasnya waktu, sejarawan hanyalan sebagai pemberi penjelasan saja. Sama halnya dengan ilmu sosial lainnya (politik tentang kekuasaan masyarakat manusia, sebagai contohnya).

c. Sejarah mempunyai teori. Teori sejarah itu bersifat pragmatis, tidak filosofis (cenderung pada peradaban), dimana waktu menduduki posisi penting. Teori berasal dari bahasa Yunani theoria = renungan, yang berisi kaidah pokok suatu ilmu.

d. Sejarah mempunyai generalisasi. Generalisasi berasal dari bahasa Yunani = umum, artinya sejarah sebagai ilmu juga menarik kesimpulan umum, hanya saja sifatnya ideografis, bukan nomotetis).

e. Sejarah mempunyai metode. Metode berasal dari bahasa Yunani methodos = cara, maksudnya sejarah mempunyai metode tersendiri yang menggunakan pengamatan. kalau ternyata suatu pernyataan tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah, maka pernyataan itu ditolak.

Sedangkan kritik terhadap sejarah sebagai ilmu dikarenakan :

a.Sejarah itu cukup dengan common sense (nalar umum, terutama terkait dengan kepentingan manusia, yang selalu ingin menonjolkan hal-hal positif)

b. Sejarah itu akan kering (bahasa sejarah itu sederhana dan langsung, to the point)

c. Sumbangan ilmu itu memberi konsep dan memberi sifat sinkronis. Sejarah dikategorikan pada ilmu yang sifatnya diakronis = memanjang dalam waktu, tetapi dalam ruang yang sempit.

2. Sejarah sebagai seni.

Argumen sejarah sebagai seni, adalah :

a.Sejarah memerlukan instuisi. Tidak bisa berdiri sendiri sebagai ilmu, karena memerlukan bantuan ilmu sosial lainnya (seperti dalam hal menentukan sumber apa saja yang akan dicari dan interpretasi data)

b. Sejarah memerlukan imajinasi (dengan alasan sejarawan dalam bekerjanya harus membayangkan apa yang sebelumnya, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi sesudah itu)

c. Sejarah memerlukan emosi (tidak dapat dipungkiri menulis sejarah, harus melibatkan emosi, sehingga keobyektifan dalam sejarah masiha ada unsur kesubyektifannya).

d. Sejarah memerlukan gaya bahasa.

Sedangkan kritik terhadap sejarah sebagai seni, dikarenakan :

a.Sejarah akan kehilangan ketepatan dan obyektifitas. Fakta merupakan kunci dalam penulisan sejarah, jadi sejarawan tidak dapat keluar dari fakta.

b. Sejarah akan terbatas. Apabila dikategorikan pada seni, sejarah pengklasifikasiannya akan terbatas, terutama dalam kaitannya dengan sejarah tematis.

c. Sumbangan seni itu memberi karakterisasi dan memberi struktur. Sedangkan dalam sejarah tidak bisa dibuat alur terlebih dulu/diplot, namun hanya berdasar fakta dan data yang dikumpulkan sejarawan.

Sementara menurut Louis Gottschalk, menjawab pertanyaan tentang apakah sejarah suatu seni atau ilmu ?, sebagai jawabannya : kedua hal itu saling mengisi, dimana kebenaran dari suatu peristiwa dibuktikan oleh satu seri dokumen yang telah diuji sedemikian seksama akan otensitas dan kredibilitasnya, sehingga hal itu dianggap oleh sejarawan sebagai suatu fakta. Fakta-fakta tersebut merupakan bahan mentah bagi sejarah. Untuk menjadikan bahan mentah itu suatu buku dilakukan seleksi, penyususnan dan deskripsi atau pengkisahan—proses historiografi. Sedangkan historiografi besar kemungkinannnya merupakan seni.

 

 

DATA  DAN   FAKTA   SEJARAH

 

DATA  SEJARAH

Didapat dari sumber sejarah, merupakan bahan-bahan sejarah yang bila “diolah” akan menjadi fakta sejarah.

 

FAKTA   SEJARAH

* Fakta sejarah disimpulkan dari bahan-bahan sejarah (tidak tersedia dalam sumber sejarah).

* Dengan metode penyelidikan, penyelidikan sejarah menggali sumber sejarah dan mengeluarkan fakta dari dalamnya.

* Sesuatu dapat disebut fakta, tergantung dari orang yang menyimpulkannya.

* Fakta bersifat relative/nisbi, karena pandangan hidup dan filsafat penyelidik yang menggali bahan-bahan mempengaruhi fakta.

* Fakta tidak mutlak, yang mutlak adalah kenyataan masa lalu. Sedang fakta adalah usaha pikiran manusia untuk merumuskan kenyataan itu dari bahan-bahan yang diwarisi.

* Fakta tergantung pada pikiran dan bahan, produk pikiran yang mengolah bahan-bahan.

* Kenyataan sejarah adalah kejadian sesungguhnya (obyektif-obyektif realistis).

* Jenis-jenis fakta sejarah (dibedakan kuantitas fakta dengan kualitasnya masing-masing), terbagi atas 3 jenis, yaitu :

1. Fakta yang digali sejarawan dari bahan-bahan sejarah.

2. Fakta yang dipastikan sarjana dalam selidik ilmiah/eksperimen.

3. Fakta yang dialami oleh sastrawan. (Sidi Gazalba,1966:34-35 dan 41).

* Fakta berbeda antara kuantitas dan kualitasnya, karena :

1. Punya fakta sedikit, maka orang tidak dapat merumuskan hukum sejarah.

2. Punya fakta banyak, maka memungkinkan orang memastikan hubungan sebab akibat, sehingga hukum-hukumnya dapat ditentukan. Hukum mewakili sejumlah fakta yang sejenis.

3. Begitu banyak fakta yang beragam, maka tidak memungkinkan menentukan hukum-hukumnya. ( ibid, 42).

 

HAKEKAT   SEJARAH

 

Merupakan suatu proses kelangsungan dan perubahan kearah kemajuan (a proses of contiuity and change into progress). Modal dasar sejarah itu sendiri adalah waktu yang kontinyu/berjalan terus ; ada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang) yang menguasai ruang/space yang berisi penuh dengan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang merupakan aktifitas manusia (human actifity) yang selaras dengan serangkaian sebab akibat (Ismaun, bahan perkuliahan PIS tahun 1987, tanggal 9-10-1987).

 

ARAH  GERAK  SEJARAH

 

Arah gerak sejarah dapat dibagi atas tiga, yaitu  :

1. Linier : artinya arah jalan sejarah adalah lurus/ datar (suatu gerak yang menuju ke suatu akhir garis perjalanan manusia).

2. Siklus  : artinya menggambarkan perjalanan berdasar peredaran waktu/perjalanan ibarat roda kehidupan.

3. Spiral   : artinya bersiklus, tapi menaik (seperti gulungan kawat yang diberdirikan).

 

 

KLASIFIKASI SEJARAH

           

Pengklasifikasian sejarah dalam hal ini adalah pengelompokkan/penggolongan sejarah atas dasar peristiwa yang meliputi 3 pertanyaan, yaitu ; apa, kapan dan dimana, sehingga diperoleh suatu klasifikasi sebagai berikut  :

1.Berdasarkan apa, terkait dengan tema/topik, dalam arti areas of living/area wilayah kehidupan manusia (dari sudut stressing, fokus dan penekanan), sehingga lahirlah sejarah yang temanya menyangkut ; ekonomi, kesenian, pendidikan, filsafat dan lain-lain.

2.  Berdasarkan kapan (waktu dulu-sekarang) terbagi atas periodisasi, babakan dan kurun waktu. sehingga dikenal dengan adanya SM/BC = Befor Christ), M/AD = Anno Domini, tahun sesudah nabi Isa, macam-macam tahun seperti tahun Hijriah (1 H = 622 M) , Saka (1 S = 78 M), Jawa, Tiongkok, Jepang (2605 = 1945 M), Sumeria, Masehi dan lain-lain.

3. Berdasarkan space/ruang, tempat, lokasi, situs, geografi, atas pertanyaan dimana, yang bisa melingkupi benua (Amerika, Australia, Eropa, Asia dan Afrika)—-regional (Asia kecil, Asia Barat Daya, Asia timur dll)—negara—-propinsi—–kebupaten/kota—-kecamantan—-desa.

 

 

FUNGSI ,TUJUAN  DAN KEGUNAAN  SEJARAH

 

            Setiap ilmu pengetahuan mempunyai fungsi dan kegunaan. Sebagai ilmu sejarah sifatnya netral dan mempunyai dua nilai, yaitu nilai sifatnya teoritis/ilmiah serta kedua nilai yang sifatnya praktis (yang mepunyai kegunaan positif). Selain itu nilai adalah sesuatu yang berharga yang kebenarahnnya menurut Aristoteles dapat dilihat dari 4 hal, yaitu : benar menurut logika dan kenyataan, baik, mempunyai keindahan serta mempunyai kegunaan/manfaat.

 

FUNGSI   SEJARAH

                        Sejarah berfungsi sebagai “historical explanation”, yang memberikan penjelasan dan kejelasan atas masa lampau, yang sifat dari penjelasannya itu sendiri secara komprehensif. Sehingga memungkinkan kita mengetahui atau mengerti yang akan memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu.

Secara umum sejarah berfungsi sebagai :

1. Information (informasi)

2. Education (pendidikan)

3. Recreation (rekreasi)

 

TUJUAN  SEJARAH

Tujuan sejarah adalah memahami masa lampau dan masa sekarang dan perkiraan pada masa yang akan datang. Dengan kata lain sejarah bertujuan menjadi bijaksana berdasarkan peristiwa yang telah berlalu, untuk hidup masa sekarang dan memahami apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

 

KEGUNAAN  SEJARAH

1.Sebagai yang punya nilai informasi/kejelasan dan penjelasan (Ismaun, bahan materi perkuliahan Pengantar Ilmu Sejarah, IKIP Bandung tahun 1987).

2. Menurut Sir John Sedey dalam bukunya “The expansion of England” : we study history that we may be wise before the evens”, diartikan kita belajar sejarah agar kita menjadi bijaksana sebelum terjadi peristiwa lagi, sehingga dapat mempelajari masa yang akan datang.

3. Menurut Al-Qur’an, diantaranya dalam :

a. QS Hud ayat 120, yang artinya “dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceriterakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”.

b. QS Yusup, ayat 111.

4. Menurut Nugroho Notosusanto, sejarah mempunyai 4 kegunaan,yaitu :

a.Edukatif/mendidik.

b. Inspiratif.

c. Instruktif (ada pengalaman yang dapat dijadikan petunjuk)

d. Rekreatif.

5. Menurut Kuntowijoyo (1997:19-36), guna sejarah dapat dibagi menjadi 2 hal besar, yaitu :

a. Guna intrinsik, meliputi 4 hal, yaitu :

1). Sejarah sebagai ilmu (dapat berkembang dengan berbagai 4 cara, yaitu : perkembangan filsafat, perkembangan dalam teori sejarah, perkembangan dalam ilmu-ilmu lain serta perkembangan dalam metoda sejarah itu sendiri).

2). Sejarah sebagai cara pengetahuan masa lalu (yang bisa dilestarikan maupun ditolak. Misalnya eksistensi kerajaan pasca Indonesia merdeka tahun 1945, ditolak oleh “sejarah” mengingat sifat dari kerajaan itu sendiri berlawanan dengan rasa nasionalisme).

3). Sejarah sebagai pernyataan pendapat (artinya banyaknya penulis sejarah, tidak lain untuk menyampaikan pendapat).

4). Sejarah sebagai profesi (sebagai pilihan hidup, terutama bagi kalangan yang konsen dengan keilmuan sejarah).

b. Guna ekstrinsik, meliputi 11 hal, yaitu :

1). Sejarah sebagai pendidikan moral (artinya menjadi tolok ukur moralitas)

2). Sejarah sebagai pendidikan  penalaran (artinya membiasakan berpikir multidimensional, tidak hanya dari satu sudut pandang).

3). Sejarah sebagai pendidikan politik (artinya pembelajaran bagi warganegara melalui peristiwa sejarah itu sendiri)

4). Sejarah sebagai pendidikan kebijakan (artinya guna sejarah dapat dijadikan pijakan bagi lahirnya kebijakan yang bisa diterima/diminimalisir).

5). Sejarah sebagai pendidikan perubahan (belajar dari sejarah, segala sesuatu pasti berubah, kecuali perubahan itu sendiri).

6). Sejarah sebagai pendidikan masa depan (untuk kehidupan masa depan yang lebih baik belajar dari sejarah itu sendiri)

7). Sejarah sebagai pendidikan keindahan (terutama ditujukan pada bukti/evidens yang sifatnya kebudayaan fisik bukan peradaban)

8). Sejarah sebagai ilmu bantu (sebagai ilmu bantu disiplin ilmu lainnya, baik yang bersifat ilmu alam, ilmu sosial maupun ilmu humaniora)

9). Sejarah sebagai latar belakang (guna untuk dijadikan pijakan dalam bertindak lebih jauh dalam berbagai hal, termasuk dalam membuat diorama).

10). Sejarah sebagai rujukan (terutama belajar dari peristiwa yang terkait dengan obyektifitasnya manusia, berguna sebagai rujukan untuk pemberi semangat, sebagai contoh, belajar sejarah perang Diponegoro).

11). Sejarah sebagai bukti (berguna dipakai untuk pembenaran perbuatan manusia selanjutnya).

6. Sementara menurut anggapan umum (Kuntowijoyo,1997:177) Sejarah memang dianggap mempunyai kegunaan pragmatis, diantaranya untuk pendidikan dan pencarian jati diri bangsa, tetapi tidak mempunyai kegunaan praktis, oleh karena itu sejarah tidak diangap merupakan bagian dari intelijensi bersama, sementara kalau orang berbicara tentang peranan ilmu sosial dalam pembangun, sejarah selalu ditinggalkan.

 

 

SUMBER  SEJARAH

           

Sumber sejarah dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a.Sumber Primer, kejadian/peristiwanya disaksikan dan dialami sendiri. Sumber ini dapat dibagi dua juga, yaitu sumber primer asli/sebenarnya ataupun sumber primer tidak asli. Adapun kriteria suatu sumber dikatakan asli adalah :

1. Dokumen mengandung gagasan yang segar dan kreatif.

2. Dokumen itu tidak diterjemahkan/ditranslit.

3. Dokumen itu berada pada awal/belum disalin.

4. Dokumen itu tidak ada pengubah, pergantian.

5. Dokumen itu merupakan sumber awal.

b. Sumber Sekunder, merupakan sumber yang didapat dari orang lain ataupun juga tidak mengalami sendiri (hidup masa tersebut, namun tidak mengalami sendiri). Dalam menggunakan sumber sekunder ini, sejarawan menggunakannya hanya untuk empat tujuan, yaitu :

1).Untuk menjabarkan latar belakang yang cocok dengan bukti sejaman mengenai subyeknya, tetapi harus bersiap sedia menyangsikan dan meluruskan pertelaan sekunder, bilamana suatu analitis kritis terhadap saksi-saksi sejaman memerlukan hal itu.

2). Untuk memperoleh petunjuk mengenai data bibliografis yang lain.

3). Untuk memperoleh kutipan atau petikan dari sumber-sumber sejaman atau sumber-sumber lain, tetapi hanya jika mereka tidak bisa diperoleh secara lebih lengkap di tempat lain dan senantiasa dengansikap skeptic terhadap sifat akuratnya, terutama jika diterjemahan dari bahasa lain.

4). Untuk memperoleh interpretasi dan  hipotesa menganai masalah itu, tapi hanya dengan tujuan untuk menguji atau untuk memperbaikinya dan jangan dengan maksud menerimanya secara total (Louis Gottschalk ,1986:78).

Sedangkan bentuk  bukti-bukti sejarah (evidens) dapat dikategorikan pada dua :

1.Informasi/dokumen (tulisan maupun lisan)

2. Data-data dari benda dan artefak.

Sementara sumber informasi sejarah menurut Louis Gottschalk (1986:60-77) dapat berasal dari :

1.Rekaman sejaman.

Merupakan dokumen yang dimaksudkan untuk menyampaikan instruksi mengenai suatu transaksi atau membantu ingatan orang-orang yang secara langsung terlibat di dalam transaksi itu. Jenisnya terdiri dari :

a.Instruksi atau perintah. Dalam dokumen semacam ini, sedikit kemungkinan bagi adanya pemalsuan atau kekeliruan mengenai maksud yang diungkapkan oleh pengarang dan bahkan mengenai “state of mind”nya.

b. Rekaman stenografis dan fonografis (baik dari pengadilan, badan-badan sosial, badan-badan perwakilan, siaran-siaran radio, panitia-panitia, staf pengajar sekolah, atau bahkan  badan-badan lain yang menggunakan kata-kata) dapat  dipercaya setidak-tidaknya mengenai apa yang dikatakan. Namun ada kelemahannya terutama harus memperhatikan tentang kesalahan-kesalahan tata bahasanya, kemungkinan adanya tekanan emosional, kelelahan, kebingungan/kebodohan.

c. Surat-surat niaga dan hukum (seperti rekening, jurnal, order inventaris, surat pajak, surat badan hukum sewa, wasiat dan sebagainya)

d. Buku catatan pribadi dan memorandum prive yang diadakan oleh  banyak orang, terutama orang terkemuka, untuk mengingatkan mengenai janji pertemuan, hal-hal yang harus dimasukan kedalam pidato.

2. Laporan-laporan konfindensiil (rahasia)

Merupakan  dokumen yang ditulis sesudah peristiwa terjadi, dimaksudkan untuk menimbulkan kesan dan bersifat kurang intim meskipun ditujukan pada orang banyak. Hal ini sehingga kurang dapat dipercaya dibandingkan dengan rekaman sejaman. Adapun jenisnya terdiri dari :

a.Berita resmi militer dan diplomatic.

b. Jurnal atau buku harian.

c. Surat-surat pribadi.

3. Laporan-laporan umum.

            Laporan yang cenderung bisa dikonsumsi oleh khalayak banyak, yang berbeda dengan laporan konfidensial yang sifatnya lebih terbatas untuk orang yang terlibat. Adapun jenisnya terdiri dari :

a. Laporan dan berita surat kabar (juga termasuk pamphlet, poster dan chapbook). Taraf kepercayaan dari surat kabat dapat diindikasikan dari reputasi suarat kabar itu sendiri dan badan pers yang mengeluarkannya. Namun tidak semua bagian surat kabar karena berbagai hal, seperti :  surat redaksi (yang seringkali palsu) harus dimasukan sebagai surat pribadi, iklan sebagai dokumen niaga, komik dan karikatur biasanya sebagai fiksi, tajuk rencana-resensi buku-kolom-dan headline   sebagai ungkapan pendapat).

b. Memoir dan otobiografi.

c. Sejarah resmi atau diotorisasi mengenai kegiatan-kegiatan mutakhir oleh instansi pemerintah, perusahaan dan perhimpunan yang sifatnya bukan rekanan prive atau rahasia.

4. Questionnaiere tertulis.

            Merupakan sarana untuk memperoleh informasi dan opini

5. Dokumen pemerintah dan kompilasi (susunan himpunan, kutipan, compiler, orang yang menyusun). Terdiri dari :

a.Risalah instansi pemerintah.

b. Undang-undang dan peraturan

6. Pernyataan opini.

            Dapat berupa tajuk rencana, esei, pidato, brosur, surat kabar redaksi, public opinion poll dan sejenisnya. Sedangkan untuk tingkat kepercayaannya tergantung pada kompetensi pengarangnya sebagai saksi.

7. Fiksi, nyanyian dan puisi.

            Arti penting bagi ilmu sejarahnya dilihat dari pertama mengungkap suka tidaknya, harapan dan ketakutan diri pengarangnya, dan kedua memberikan “warna lokal” lingkungan yang membantu membentuk pandangan pengarangnya.

8. Folklore, nama tempat dan pepatah.

Digunakan untuk mengungkap latar belakang sejarah yang merupakan refleksi suasana strukturil jamanya (zeitgeist)

 

METODE    SEJARAH

Timbulnya metode sejarah setelah Perang Dunia II, dilihat dari subyeknya, sejarawan membuatnya berdasakan fakta-fakta dan data-data dokumen yang ada, dikemukakan oleh Ernst Bernheim. Sedangkan yang mengemukakan teori sejarah adalah  Leopold Von Ranke abad ke-18, tepatnya tahun 1785).

Metode diartikan sebagai cara/jalan, yang menyangkut masalah cara kerja,yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.  Sedangkan pengertian metodologi Sejarah menurut Taufik Abdullah merupakan patokan dalam meneliti dan menceritakan kisah sejarah, yang akan memberikan batasan dan sasaran yang jelas dalam usaha untuk melukiskan hari lampau.

Metode menurut Gilberth J. Garraghan, sebagai “……seperangkat aturan-aturan dan prinsip-prinsia yang sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis, dan menyajikan sintesa daripada hasil-hasil yang dicapai dalam bentruk tertulis”.

Metode menurut Louis Gottschalk, sebagai “proses dan menganalisa secara kritis  rekaman dan peninggalan masa lalu”.

Sementara menurut Ernst Bernheim dalam bukunya “Lehrbuch der  historichen method und der Geschichtsphilosophie” tahun 1889, bahwa metode sejarah itu mempunyai 4 tahap,  yaitu :

1.Heuristik (menemukan dan menghimpun bukti-bukti sejarah)

2. Kritik (menguji dan menilai)

3. Auffasung (memahami makna yang sebenarnya dari pada bukti-bukti sejarah yang telah dinilai)

4. Darstellung (penyajian pemikiran baru berdasarkan bukti-bukti yang telah dinilai itu dalam bentuk tertulis);

Metode sejarah menurut  Ismaun (bahan perkuliahan PIS tahun 1987, tanggal 18-12-1987), diartikan sebagai seperangkat prinsip-prinsip/cara-cara untuk memperoleh suatu kebenaran, yang telah diuji sehingga melahirkan teknik.

Metode sejarah menurut  Ismaun ((bahan perkuliahan PIS tahun 1987, tanggal 2-10-1987), melalui langkah-langkah :

1.Identifikasi masalah.

2. Seleksi dan koleksi sumber.

3. Verifikasi dan validasi (untuk menentukan ilmiah tidaknya)

4. Organisasi penyusunan dan penulisan (historiografi).

Sedangkan asas-asas dan prosedur metode sejarah (ibid) adalah sebagai berikut :

1.Heuristik (merupakan salah satu bagian dari ilmu sejarah yang mencari sumber atau diartikan sebagai mencari, menemukan, mengumpulkan, mengklasifikasikan sumber data-data/benda-benda tulisan yang sumbernya harus relevan—-fakta—-klasifikasi).

2. Kritik/analisis, yang merupakan sumber dari interpretasi. Kritik dapat dibagi menjadi kritik intern (digunakan untuk menguji keaslian sumber  sejarah) dan kritik ekstern.

Kedua asas ini merupakan konsep sejarah sebagai illmu/science yang mempunyai metodologi dan teknik.

3. Interpretasi : pemberian arti/makna.

4. Historiografi : penulisan sejarah

Kedua asas terakhir ini merupakan seni/art dan kiat kemahiran seseorang.

Sementara menurut Renier (xxxx;xx), dapat dibagi atas :

1. Pengumpulan obyek/sumber sejarah

2. Kritik

3. menyimpulkan kesaksian dari bahan otentik

4. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya

5. Penyusunan kisah sejarah.

Sedangkan menurut  Kuntowijoyo (xxxx;xx), dapat dibagi atas :

1. Pemilihan topik

2. Pengumpulan sumber

3. Verifikasi (kritik/keabsahan sumber)

4. Interpretasi (analisis dan sintetis)

5. Penulisan (pengantar, hasil, simpulan).

 

OBYEKTIFITAS  DAN   SUBYEKTIFITAS   SEJARAH

 

OBYEKTIFITAS

Sejarah dikatakan obyektif, terutama dalam hal sumber-sumbernya, seperti : situs, benda, tutur, rekaman, fosil, artefak, dokumen, yang semuanya merupakan bahan mentah yang dapat dijadikan fakta (asalnya data dan evidence) (dimana dalam hal ini ceritera sejarah dapat diulang, sementara kejadiannya tidak dapat direkonstruksi).

Obyektifitas dalam sejarah, dipengaruhi oleh :

1. Pandangan hidup

2. Politik yang berlaku

 

SUBYEKTIFITAS

Sementara dalam hal subyektifitas, terutama dalam hal rekonstruksinya, imajinasinya, tafsirannya, kesimpulannnya serta analisisnya.

.

GENERALISASI  SEJARAH

 

Generalisasi berasal dari kata generalis = umum, yang diartikan sebagai pekerjaan penyimpulan dari yang khusus pada yang umum.Generalisasi dapat digunakan sebagai hipotesis deskriptif, yaitu sebagai dugaan sementara, selain itu generalisasi dapat dijadikan sebagai dasar penelitian yang sifatnya sederhana. Sebagai suatu ilmu generalisasi diperlukan dalam sejarah, walaupun dapat berarti spesipikasi atau bahkan anti generalisasi bagi ilmu lain.

Generaliasasi mempunyai 2 tujuan, yaitu :

1.Generalisasi saintifikasi.

Semua ilmu menarik kesimpulan umum. Keajegan mejadi tumpuan dalam generalisasi. Generaliasi dalam sejarah sering dipakai untuk mencek teori yang lebih luas. Sementara teori di tingkat makro seringkali berbeda dengan generaliasai sejarah di tingkat mikro.

2. Generalisasi simplikasi.

Simplikasi diperlukan supaya sejarawan dapat melakukan analisis, yang akan menuntun sejarawan dalam mencari data, melakukan kritik sumber, interpetasi dan penulisan.

Macam-macam generalisasi terbagi atas  :

1.Generalisasi konseptual.

Generalisasi berupa konsep yang menggambarkan fakta. Konsep-konsepnya tidak mesti diambil dari ilmu lain, namun sejarah juga punya hak untuk membuat konsep sendiri, seperti kata renaissance, yang diartikan sebagai konsep yang dibuat oleh sejarah untuk memberi symbol pada zaman kebangkitan kembali nilai-nilai kemanusiaan (khususnya di Eropa). Contoh konsep Agresi Militer Belanda I dan II untuk peristiwa yang sama yang disebut dengan aksi polisional oleh Belanda sebagai penguasa/kaum kolonial.

2. Generalisasi personal.

Generalisasi yang dimaksud dalam hal ini adalah generalisasi yang dapat diartikan sama dengan cara berpikir dalam logika yang menyamakan bagian dengan keseluruhan, dengan kata lain “seolah-olah”. Misalnya bicara peristiwa Indonesia Merdeka sama dengan Sukarno atau Hatta, atau bicara Orba sama dengan Suharto.

3. Generalisasi tematik.

Generalisasi yang diambil dari peristiwa yang sama dengan temanya. Seperti bicara Suharto sebagai anak desa, dilukiskan sebagai hakekat anak desa.

4. Generalisasi Spatial.

Generalisasi yang dikaitkan dengan tempat. Misalnya bicara Asia Selatan pasti menyangkut India, Bangladesh, Pakistan dan Afganistan.

5. Generalisasi periodik.

Generalisasi  berdasarkan periode. Misalnya “The Dark Age untuk sebutan zaman pertengahan di Eropa.

6. Generalisasi sosial.

Generalisasasi yang terkait dengan kelompok sosial. Misalnya kata petani merupakan generalisasi yang harus dispesipikasikan, karena konsepnya berbeda di negara maju, sedang berkembang apalagi negara maju (yang cenderung bukan hanya buruh tani, namun pengusaha).

7. Generalisasi kausal.

Generalisasi yang berdasarkan karena sebab akibat. Sebagai contoh, kepindahan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dikarenakan :

a.Letusan gunung berapi yang menyebabkan daerah-daerah di Jawa Tengah tidak layak huni (sebab geografis)

b. Penduduk Jawa Tengah terlalu padat, sehingga sumber alam tidak bisa mendukung (alasan kependudukan)

c. Ditemukannya batu bata yang lebih ringan dibanding batu (alasan teknologis).

8. Generalisasi kultural.

Generalisasi berdasar pada kultur/budaya (dalam arti luas). Misalnya : tidak ada anak ulama yang masuk sekolah umum sebelum kemerdekaan.

9. Generalisasi sistemik.

Generalisasi yang membuat kesimpulan berdasarkan system dalam sejarah. Misalnya ; orang jawa mengirim beras ke Indonesia Timur.

10.Generalisasi struktural.

Generalisasi yang berdasar pada struktur dari suatu peristiwa, misalnya ; orang bisa mengira-ngira seseorang berasal dari negara Jepang dilihat dari matanya yang sipit, bukan orang Korea(Kuntowijoyo,1887:144-156)

Sejarah bisa digeneralisasikan (yang ditarik bukan peristiwanya, namun hakekatnya, karena peristiwa sejarah itu unik) dengan syarat-syarat (tertentu) :

1.Mengandung unsur umum dan seni

2.Mempunyai karakteristik khusus.

3. Peristiwa tidak dapat direkostruksi

 

SEJARAWAN  DAN  AHLI  SEJARAH

 

SEJARAWAN

            Orang  yang menjadi penulis sejarah, yang menciptakan karya sejarah dalam bentuk tulisan/lisan, dibukukan ataupun tidak (Sidi Gazalba;1981:8). Pekerjaan utamanya adalah rekonstruksi masa lampau dan mewujudkan suatu penulisan sejarah/menulisakan kembali sejarah (rewriting history).. Terdapat 3 kategori sejarawan jika dilihat  asal mulanya :

1.Sejarawan professional

Sejarawan jenis ini merupakan ujung tombak bagi penulisan sejarah, dimanapun ditempatkan (daerah) , dengan melengkapi diri metodologis yang sesuai dengan bidang penelitiannya (baik yang telah didapatnya selama pendidikan maupun dengan memperkaya keilman secara otodidak)

2.Sejarawan dari disiplin ilmu lain

Berasal dari berbagai disiplin ilmu yang telah diselesaikanya, yang kemudian bergelut dan menulis tentang sejarah yang menjadi disiplin ilmnya itu sendiri. Misalnya seorang dokter yang menulis tentang sejarah kesehatan atau tentang perumahsakitan

3.Sejarawan dari masyarkat

Berasal dari kalangan masyarakat yang peduli dengan sejarahnya, yang dalam hal ini kadangkala mengabaikan unsur metodologis sejarah, namun tidak sedikit sumbangannya bagi dunia keilmuan sejarah dan bahkan diakui secara nasional. Sebagai contoh : Ramadhan KH dan Ajip Rosidi.


AHLI  SEJARAH

            Orang yang mengetahui, memiliki ilmu, ahli tentang sejarah, termasuk pengajar sejarah.(Sidi Gazalba,1981:7)

 

PENDIDIKAN  SEJARAWAN

Pendidikan sejarawan dimaksudkan sebagai pendidikan terhadap orang-orang yang setelah menjalani proses pendidikan siap untuk menjadi penulis sejarah. Hal ini erat kaitannya dengan kurikulum yang diikuti oleh seseorang yang telah dipersiapkan secara “sempurna” oleh lembaga yang mempunyai kewenangan dengan pendidikan sejarah pada jenjang pendidikan tinggi.

Sebagai contoh Kuntowijoyo (1995-74) memberikan gambaran yang gamblang untuk kurikulum yang harus diikuti oleh seseorang diluar MKU dan  MKDK (yang merupakan keumuman dari setiap orang yang mengikuti kuliah) yang dapat penulis bagi menjadi :

1.Pengantar

a.Pengantar ilmu sejarah

b. pengantar sejarah Indonesia

2.Kajian sejarah

a.Sejarah Indonesia Lama sampai 1500.

b.Sejarah Indonesia abad ke-16-18

c.Sejarah Indonesia abad ke-19-2-

d.Sejarah Pergerakan Nasional

e.sejarah Indonesia Kontemporer 1942-sekarang

3.Teori dan Metodologi Sejarah

a.Metode Sejarah

b.Teori Sejarah

c.Metodologi Sejarah

4.Historiografi

a.Historiografi Indonesia

b.HIstoriografi umum

5.Bahasa Sumber (bahasa Belanda)

6.Ilmu bantu Sejarah

a.Arkeologi (penngantar Arkeologi Sejarah)

b.Filologi

c.Geografi dsb.

7.Sejarah Wilayah

8.Sejarah Tematik

a.Sejarah Sosial

b.Sejarah ekonomi

c.Sejarah Maritim

d.Sejarah Militer

e.Sejarah Lokal

f.Sejarah Agraria

g.Sejarah ABRI

h.Sejarah Diplomasi

i.Sejarah Tatanegara dsb

8.Pendukung metode

a.Statistik sosial

b.Metode penelitian ilmu sosial

c.Sejarah lisan

d.Ilmu Perpustakaan dan kearsipan

e.Permusiuman

f.Bahasa Daerah

.

 

 

 

 

—Surya—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.LANGKAH-LANGKAH   DALAM PEMILIHAN   TOPIK

2. PENGUMPULAN SUMBER-SUMBER

Sumber Penelitian Sejarah

1. Sumber dokumenter

2. Naskah kuno

3. Tradisi lisan

Teknik-teknik dalam penyelidikan sejarah adalah kemahiran menggunakan alat-alat dan ilmu bantu yang diperlukan dalam metoda untuk menangkap kebenaran-kebenaran yang dicari.

 

 

 

3. KRITIK INTERN DAN KRITIK EKSTERN

KRITIK  INTERN

Kritik terhadap sumber sejarah, yang menyangkut :

a.keotentikan sumber

b.Sumber masuk kategori asli ataukah turunan

c.Sumber itu masih utuh atau sudah berobah.

 

KRITIK EKSTERN

Kritik terhadap sumber sejarah, menyangkut “

a.Penilaian instrinsik dari sumber-sumber

b.Perbandingan kesaksian dari pelbagai sumber

 

4. ANALISIS DAN INTERPRETASI.

 

ANALISIS

 

INTERPRETASI

Teknik Interpretasi

1. Verbal

2. Teknis

3. Logis

4. Psikologis

5. Faktual.

 

5. PENYAJIAN  BENTUK TULISAN/HISTORIOGRAFI (dalam mata kuliah tersendiri, yaitu Historiografi)

Struktur logis Penulisan Sejarah (?)

1. Kronologis.

2. Penentuan fakta (penyebab, peristiwa dan akibat)

3. Serialisasi

4. Peristiwa yang bersamaan dituturkan terpisah.

5. Seleksi peristiwa yang kompleks

6. Pembagian unit waktu dan ruang

7. Periodisasi

8. Pembabakan episode

9. Deskripsi analisis.

Perubahan Cakrawala Penulisan Sejarah

1. Reliomagis/kosmogonis ke empiris-ilmiah

2. Etnocentrisme ke nasionalis

3. Kolonial elitis ke sejarah sosial.

 

 

 

TEKNIK  PENELITIAN  SEJARAH

            Maksud teknik penelitian sejarah disini adalah bagaimana cara sistematis mengerjakan penelitian dalam bidang ilmu sejarah, sehingga hasil yang menjadi tujuan yang dimaksud tercapai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HAND  OUT

PENGANTAR  ILMU  SEJARAH

Oleh : Iis Suryani N

 

==============================================================

 

 

KESALAHAN-KESALAHAN

 SEJARAWAN

           

Sebagai manusia, sejarawan dimungkinkan membuat kesalahan (apalagi mengingat obyektifitas dalam sejarah bersifat subyektif). Adapun  kesalahan tersebut dapat terjadi dalam hal-hal yang terkait dengan :

1.Pemilihan topik, yang terbagi lagi atas :

a.Kesalahan Baconian (Francis Bacon yang hidup 1561 – 1629 M, adalah seorang empiricist Inggris, yang percaya bahwa pengetahuan yang benar hanya mungkin dicapai lewat empiris, atau pengamatan atau pengalaman atau pengindraan) sedangkan sejarah tidak demikian. Jadi maksudnya sejarah mesti berpegang pada teori, konsep, ide, paradigma, praduga, hipotesis atau generalisasi  lainnya, sehingga penelitian sejarah dapat dikerjakan.

b. Kesalahan terlalu banyak pertanyaan, yang disebabkan karena sejarawan menanyakan lebih dari dua pertanyaan sekaligus, menanyakan satu pertanyaan namun jawabannya menimbulkan pertanyaan lain, serta pertanyaan itu terlalu kompleks.

c. Kesalahan pertanyaan yang bersifat dikhotomi (antara hitam dan putih/memihak atau menyudutkan, padahal sejarawan hanya bertugas melukiskan bukan untuk menghakimi)

d. Kesalahan metafisik. Maksudnya tofik-tofiknya bersifat filsafat, moral dan teologi. Misalnya “kemerdekaan berkat rahmat”, hal ini  tidak dapat dibuktikan oleh sejarawan, karena tanpa bukti dan diluar sumber sejarah yang dapat dikumpulkan.

e. Kesalahan tofik fiktif (sejarah tidak mengelan kata “andaikata/if”)

2.Pengumpulan sumber. Kesalahan dalam hal ini dapat terdiri atas :

a.Kesalahan Holisme, maksudanya kesalahan yang dibuat oleh sejarawan dengan menggeneralisasikan sebagian dari peristiwa untuk diberlakukan secara umum (misalnya penelitian suatu peristiwa di daerah X tidak berlaku untuk daerah lain)

b. Kesalahan pragmatis. Terjadi bila untuk tujuan tertentu kita memilih sumber yang mendukung tujuan itu, sehingga pengumpulan sumber tidak tuntas. Namun dalam kasus politik praktis sering terjadi, terutama dalam menghadapi pemilu.

c. Kesalahan ad hominem (merujuk pada seseorang). Maksudnya sejarawan sering membuat kesalahan dalam pengumpulan sumber karena merujuk pada seseorang yang berdasarkan pangkat tinggi, kedudukan, keturunan dan sebagainya. Hal ini terutama terjadi dalam wawancara. Untuk menghindari kesalahan ini, maka sejarawan dapat melakukannya dengan 3 cara, yaitu pengumpulan sumber dari sumber pertama/yang bersangkutan,  sumber kedua/pihak lawan serta sumber ketiga/saksi mata yang sama sekali tidak terlibat.

d. Kesalahan Kuantitatif. Maksudanya kesalahan yang dibuat oleh sejarawan, yang lebih percaya pada data-data statistik dari sumber dibanding dengan tertimoni (penyaksian)

e. Kesalahan Estetis. Hampir senada dengan kesalahan kuantitatif, bedanya sumber yang dikumpulan adalah yang bernilai estetis.

3.Verifikasi. Untuk menghindari kesalahan ini   sejarawan harus berusaha mengemukakan obyektifitas, dengan sungguh-sungguh menerapkan kritik sejarah dan menghindari kesalahan. Jenis kesalahan dalam verifikasi, dapat dibagi menjadi

a.Kesalahan pars pro toto. Maksudnya kesalahan ini terjadi kalau orang menganggap bahwa bukti yang ternyata  hanya berlaku untuk sebagian dianggap berlaku untuk keseluruhan. Sebagai contoh : buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang dianggap sebagai keluhan wanita Jawa, padahal itu hanya berlaku bagi Kartini yang merupakan wanita bangsawan (tidak berlaku bagi gadis desa dan pesantren yang justru dilemparkan dari masa kanak-kanak).

b. Kesalahan toto pro pars. Kesalahan yang sebaliknya dari pars pro toto,  dimana sejarawan mengemukakan keseluruhan, padahal yang dimaksudkan adalah bukti untuk sebagian. Misalnya bicara tentang “angkatan 45” yang diasumsikan seolah-olah semua pemuda Indonsia masa itu sebagai pejuang.

c.Kesalahan menganggap pendapat umum sebagai fakta. Sebagai contoh pendapat bahwa “wanita kedudukannya lebih rendah, karena dilihat dari produktifitas”, padahal di tempat-tempat tertentu ada kalanya wanita jadi tulang punggung keluarga.

d. Kesalahan menganggap  pendapat pribadi sebagai fakta.

e. Kesalahan rincian angka yang presis, padahal sejarawan hanya bisa memberikan perkiraaan bukan angka-angka persis.

f. Kesalahan bukti yang spekulatif, sedangkan sejarah sebagai ilmu bersifat empiris, sehingga tidak boleh ada bukti yang di luar jangkauan sejarah.

4.Interpretasi. Dalam memberikan penjelasan sejarah, sejarawan terikat oleh logika yang telah diterima oleh semua ilmu, sehingga kemampuan mengumpulkan sumber sejarah harus disertai dengan kemampuan menjelaskan. Kesalahan interpretasi terdiri atas :

a. Kesalahan tidak membedakan alasan, sebab, kondisi dan motivasi.

b. Kesalahan post hoc propter hoc dan kesalahan cum hoc propter hoc (bahasa latin berarti setelah ini, maka ini serta bersama-sama dengan ini, maka itu). Maksud post hoc propter hoc kalau sejarawan berpendapat karena peristiwa A lebih dulu maka peristiwa B disebabkan oleh pristiwa A. Sedangkan cum hoc propter hoc maksudnya peristiwa B dianggap lebih dahulu dari A, padahal secara factual A lebih dulu dari B, jadi kesalahan kronologi.

c. Kesalahan reduksionisme. Kesalahan ini sering dikerjakan oleh sejarawan yang berideologi, yaitu bila sejarawan  menyederhanakan gejala yang sebenarnya kompleks.

d. Kesalahan pluralism yang berlebihan. Biasanya kesalahan yang dibuat oleh sejarawan yang tidak menyebutkan faktor yang menentukan.

5.Penulisan. Tiga kemungkinan kesalahan yang dibuat oleh sejarawan dalam hal penulisan, yaitu :

a.Kesalahan narasi. Kesalahan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1).Kesalahan periodisasi (terjadi bila sejarawan memandang periode sebagai waktu yang pasti)

2).Kesalahan didaktis (terjadi bila sejarawan menggunakan historiografi untuk mengajarkan suatu nilai, sehingga penulis sejarah akademik-pun harus mengingat tempat dan waktu)

3).Kesalahan pembahasan (baik dalam hal kesalahan bahasa yang emotif/penggunaan kata yang emosional, sebagai contoh “dengan gagah berani”, serta kesalahan non sequitur/bila kalimat yang dipakai bukan merupakan     kalimat sebelumnya)

b.Kesalahan argumentasi. Terjadi bila sejarawan membuat kesalahan dalam menguraikan gagasan waktu menyajkan baik secara konseptual  (terjadi bila sejarawan menggunakan istilah yang memunyai makna ganda) maupun secara substantif (terjadi bila sejarawan mengemukakan argumen yang tidak relevan atau tidak rasional ).

c.Kesalahan generalisasi. Dalam hal generalisasi ini, sejarawan melakukan 2 kesalahan, yaitu :

1).Kesalahan dalam generalisasi yang tidak representative. Biasanya sejarawan melakukan kesalahan jika generalisasinya harus disertai banyak pengecualian (karena melampuau batas wewenang ilmu sejarah)

2).Kesalahan dalam generalisasi sebagai kepastian yang melihat bahwa generalisasi sejarah adalah hukum universal yang berlaku di semua tempat dan waktu. Maksudnya dalam generalisasi sejarah bukan hukum universal yang pasti.

 

 

RAMALAN  SEJARAH

 

Sejarah mesti hati-hati dalam berbicara  hal ramalan sejarah, maksudnya mengenai masa depan, sebab sejarah harus berdasarkan fakta, sementara fakta tentang masa depan jelas tidak ada. Jika ada yang mengupasnya maksudnya ekstrapolasi atau perkiraan yang berdasarkan “historical trend”,  yang berfungsi sebagai pandangan untuk masa depan supaya tidak “meloncak dalam gelap”. Selain itu yang mesti diingat, bahwa ramalan itu seringkali meleset (karena di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali perubahan, sekalipun ilmu pasti. Sebagai contoh tentang metrology yang  diramalkan oleh BMG yang memperkirakan akan hujan, namun kadangkala tidak terjadi, karena misalnya angin berubah tekanannya).

Berbagai jenis ramalan (ramalan makro dan  mikro dilihat dari cakupan permasalahan, sedangkan jika dilihat secara waktu, terdapat ramalan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang), yang memungkinkan secara keilmuan untuk Sejarah dan ilmu sosial lainnya, membuat ramalan ini berdasarkan ramalan makro dan jangka menengah.  Menurut Kuntowijoyo (1997:193) masa depan Indonesia menurut ramalan sejarah masih akan menjadi masyarakat peralihan (antara masyarakat agraris, industrial dan pasca industrial), sementara untuk perkembangan politiknya tidak bisa bersama-sama dengan perkembangan masyarakatnya, sehingga susah untuk mengikuti satu model (politik mengikuti model USA, industry mengikuti model Jepang, turisme mengikuti model Cina, agrobisnis mengikuti model Thailand serta perdagangan mengikuti model Hongkong).

 

 

 

SEJARAH  DAN  PEMBANGUNAN

 

Sejarah seringkali ditinggalkan dalam membicarakan pembangunan (pembangunan dalam arti luas, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, agama, pertanian dan lain-lain) karena dianggap tidak mempunyai keguanaan praktis, namun hanya mempunyai kegunaan pragmatis.Namun hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut, dengan mengkaji dulu pembangunan itu sendiri.

Dalam kegiatan pembangunan terdapat 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan/monitoring serta penilaian/evaluasi. Dalam hal perencanaan dan pelaksanaan sejarah sebagai ilmu akan berguna, sedangkan dalam pengawasan dan penilaian sangat tergantung pada “kelincahan”sejarawan itu sendiri.

Menyangkut perencanaan dan pelaksanaan sejarah berguna terkait  3 hal, yaitu :

1.Sejarah perbandingan/comparative history, yaitu dengan cara membandingkan pembangunan di satu tempat dengan tempat lain

2.Pararelisme sejarah/historical pararelism (kesejajaran masa lalu dengan masa tertentu yang sedang dibicarakan

3.Evolusi sejarah/historical evolution (maksudnya hal-hal yang mungkin terjadi dengan mengingat peristiwa yang sudah pernah terjadi, dengan mempelajari gejalanya).

 

 

—–isn—–

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH  LOKAL  DAN  SEJARAH  NASIONAL

(dipelajarai dalam materi mata kuliah  Sejarah Lokal)

 

“Buku Pelajaran itu Ditulis Harus sesuai Dengan kurikulum yang telah ditentukan. Dan Kurikulum (termasuk silabus) pelajaran sajarah bukan saja tergantung kepada rencana pendidikan, tetapi juga sikap terhadap pengetahuan Sejarah” (Taufik Abdullah)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HAND  OUT

PENGANTAR  ILMU  SEJARAH

Oleh : Iis Suryani N

 

==============================================================

 

SEJARAH  DALAM (KURIKULUM)  PENDIDIKAN

Dalam kurikulum di Indonesia (malah di negara lainpun, termasuk negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat), pelajaran Sejarah sangat erat terkait dengan kelangsungan kepentingan masa depan negara dan bangsa dari generasi muda usia sekolah (baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi). Bagaimanapun obyektifnya menyusun suatu sejarah negara dan bangsa (di Indonesia), namun tetap sangat terkait dengan unsur “nasionalisme”, baik rasa, faham maupun jiwa kebangsaan.

Pelajaran sejarah dari tingkat SD-SLTA merupakan mata pelajaran yang harus diikuti, yang kadang-kadang disatukan dengan pesan-pesan moral kehidupan kemasyarakatan, yang biasanya menggunakan pendekatan etis (bahwa kita hidup dalam masyarakat dan bersama dengan orang lain, mempunyai kebudayaan).

Sedangkan sejarah di tingkat universitas merupakan pilihan hidup seseorang (suka/tidak suka) secara akademik pendekatannya, yang penekanannya lebih pada perubahan masyarakat, dengan tujuan mahasiswa supaya :

1.Mempunyai gambaran tentang latar belakang masyarang yang sedang dibicarakan

2. Mempunyai gambaran tentang kesinambungan dan perubahan

3. Dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi agar dengan ilmu sejarah dapat melihat perkembangannya (Kuntowijoyo,1997:4)

Idealnya menurut Taufik Abdullah (Historia no.9 halaman 40), bahwa “buku pelajaran Sejarah sebaiknya cukup membatasi diri pada sejarah yang terbuka saja. Atau lebih tepat pada hal-hal yang merupakan accepted history, uraian masa lalu yang telah umum diterima. Artinya aspek Sejarah yang terbuka, yang terekam baik, dan aspeknya yang tertutup telah digali sejernih mungkin. Tetapi diatas segala-galanya adalah sikap terhadap pelajaran Sejarah harus mengalami transformasi yang menyeluruh. Pelajaran Sejarah, sejak awal, harus diperlakukan sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang akademis, bukan sebagai alat yang berada di luar konteks keilmuan. Kalau sikap ini telah diambil maka masalah utama yang dihadapi adalah strategi pedagogis”.

Terkait dengan “gugatan terhadap pelajaran dan buku Sejarah” menurut Taufik Abdullah (ibid, halaman 41), “masalah penting dari pelajaran Sejarah kita (di Indonesia), yaitu hanya 2 hal yang mesti diperhatikan :

1.Kecenderungan keras untuk selalu memperlakukan pelajaran Sejarah sebagai sejarah Ideologis. Hal ini bahkan pernah diperjelek dengan adanya pelajaran PSPB pada tahun 1980-an yang katanya adalah

Sejarah yang afektif, bukan kognitif. Bahwa ini adalah sikap terhadap sejarah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik, tidak perlu  lagi saya uraikan.

2.Keenganan perencana pelajaran Sejarah, dan terutama para penulis buku sejarah, untuk berkomunikasi dengan sejarawan akademis yang aktif. Buku-buku pelajaran Sejarah yang kita punyai sebagian besar masih bercorak kolonial tanpa moral kolonial, jadi tidak ubahnya kita kembali hidup di tahun 1950-an. Mudah-mudahan krisis kepercayaan terhadap pelajaran Sejarah benar-benar menjadi pelajaran.

 

PELURUSAN  SEJARAH

 

Runtuhnya Orde Baru sebagai sebuah “rezim” yang berkuasa selama 30 tahun (1968 – 1998) membawa masyarakat pada kebebasan “berekspresi”, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan (khususnya menyangkut materi pembelajaran sejarah, yang selama ini ingatan kolektif masyarakat diimaginasikan oleh penguasa Orba, dalam rangka melanggengkan kekuasaannya) sehingga menumbuhkan suara masyarakat untuk melakukan”pelurusan sejarah” yang telah dibengkokan oleh Orba.

Menjamurnya buku-buku karangan masyarakat di luar sejarawan (secara individual maupun kolektif) yang “dibungkam” Orde baru eksistensinya selama 30 tahun yang sekaligus merupakan “lawan politik Orba” tidak dapat dibendung, walaupun dalam tinjauan sejarah belum tentu betul-betul obyektif. Namun dengan demikian menunjukkan bagaimana “terberangusnya” “suara-suara dari kalangan yang merasa dirugikan” sangat banyak dan beragam.

Baik penulisan sejarah yang sifatnya ideologis maupun akademis, ternyata menunjukkan antusiasmenya dan pedulinya masyarakat akan nasib bangsanya sendiri, yang selama ini banyak didholimi oleh rezim tersebut. Semua itu perlu dihormati, walau untuk kalangan akademik /dunia akademik (khususnya perguruan tinggi), penulisan sejarah yang sifatnya akdemik merupakan hal utama dan dijadikan rujukan (baik ditulis oleh sejarawan secara perorangan, maupun komunitas sejarawan yang terwadahi dalam satu naungan organisasi profesi, MSI sebagai contoh).

Seruan Menteri Pendidikan Nasional (Yuwono Sudarsono tahun 1999) (MSI,1999:pengantar), merupakan salah satu contoh “jawaban dan kepedulian pemerintah” terhadap hal diatas, dengan mengatakan “buku-buku sejarah yang lama dan selama ini digunakan secara resmi, tetap akan digunakan. Hanya saja ia menghimbau kepada guru-guru sejarah agar secara arif dan selektif di dalam menggunakan buku-buku tersebut.Akan halnya penulisan ulang dari buku-buku sejarah yang selama ini digunakan baik buku-buku paket maupun buku-buku yang direkomendasikan oleh Dirjen Dikdasmen-Depdikbud, itu akan dibicarakan dengan pengurus pusat MSI, sebagai organisasi profesi sejarah di Indonesia, untuk mendapatkan saran tindak yang sebaik-baiknya”.

Selanjutnya secara resmi berbagai tindak lanjut dilakukan yang bermuara pada pembuatan buku “Sejarah Nasional” oleh MSI, walaupun sampai akhir 2009 ini belum dipasarkan,namun paling tidak “sudah merupakan jawaban dan bentuk kepedulian dari pemerintah sekaligus sebagai penghargaan terhadap para sejarawan yang diwadahi dalam organsiasi profesi MSI”.

 

 

Keterangan :

            Untuk memperdalam tentang teori Metodologi Sejarah, sangat dianjurkan untuk membaca dan menelaah serta menganalisis buku :

1.J.Garraghan S.J. “A Guide to Historical Method “, mengupas banyak tentang sumber-sumber Sejarah.

2.Robert F.Berkhofer Jr.,”A Behavioral Approach to Historical Analysis”mengupas terutama tentang analisis Sejarah, baik analisis terhadap sumber-sumber sejarah maupun analisis terhadap fakta.

3.G.J.Renier,”History Its Purpose and Method”, buku ini banyak mengemukakan tentang sumber Sejarah juga memberikan beberapa metode penyusunan cerita Sejarah.

4.Mark.M.Krug.,”History and the Social Sciences, New Approaches to Teaching of Social Studies”, yang menjelaskan konsep-konsep ilmu sosial dan pendekatan pada ilmu Sejarah.

5.Thomas C.Clochran, “the Social Sciences in historical Study, mengemukakan tentang konsep-konsep ilmu Sosial maupun analisis Sejarah.

6.Patrick Gardiner,”Historical Explanation, tentang eksplanasi Sejarah

7.Homer Carey Hockett, “The Critical Method in Historical Research and Writing, mengemukakan tengan kritik Sejarah, bilbiografi dan historiografi (terutama di Amerika).

 

—surya—